Friday, 13 April 2012


Letak Geografis

Terletak di antara benua Asia dan Afrika. Meskipun begitu, Mesir dianggap merupakan bagian dari Afrika karena 90% wilayahnya berada di Benua Afrika. Akan tetapi, secara kultural bangsa ini merupakan bagian dari bangsa Arab karena persamaan budaya dan bahasa. Posisi Mesir yang dekat dengan Asia dan berseberangan dengan Eropa adalah posisi yang sangat strategis. Negara yang luasnya dua kali Pulau Sumatera ini, berbatasan dengan Laut Tengah di sebelah utara, di sebelah selatan dengan Sudan, di sebelah barat dengan Libya dan di sebelah timur dengan Laut Merah dan Israel.

Mesir menempati wilayah seluas 1.101.499 kilometer persegi. Penduduk negara ini mencapai 60,3 juta jiwa, dengan penyebarannya yang tidak merata karena hampir 99% penduduk berdiam pada sekitar 4% dari seluruh luas areal, di sepanjang Sungai Nil. Hal ini dikarenakan hampir 96% wilayahnya adalah gurun pasir gersang. Pemerintah Mesir sekarang tetap berusaha melakukan program pemerataan penyebaran penduduk dengan membangun kota-kota baru seperti Madinah Sittah Oktober (6 October City), Madinah `Asyir min Ramadlan (10th of Ramadhan City), Sinai dan kawasan Upper Egypt.

Asal Nama Mesir

Nama Mesir adalah ucapan “lidah Melayu” yang berasal dari kata Misr. Misr dalam Bahasa Semit berarti batas. Bangsa-bangsa Semit yang terdiri dari bangsa-bangsa Asyiria, Aram, Ibrani dan Arab menyebut daerah yang berada di perbatasan mereka sebagai Misr (Misrayin menurut bangsa Aram dan Misrayem menurut bangsa Ibrani) dan menyebut orang-orangnya dengan Misriyyiin atau orang-orang Mesir.

Dalam prasasti Venekia, bangsa Asyiria kuno menyebut negeri ini dengan Hecobtah yang berarti “tempat bersemayamnya roh Bietah”.  Bietah adalah nama salah satu dewa Mesir kuno yang bertugas melindungi perindustrian. Hecobtah merupakan sebutan yang dipakai oleh orang-orang Mesir kuno sendiri bagi ibukota kerajaan mereka dahulu yaitu Menaf (Memphis).

Mesir dalam bahasa Yunani disebut dengan Egyptus yang berarti bumi yang dicintai. Nama ini disebut berulangkali dalam syair-syair karya Homerus. Dari kata inilah dunia internasional hingga saat ini menyebut Mesir dengan nama Egypt. Dari kata ini pula, muncul derivasinya yaitu Qibty setelah mengalami proses pembuangan awalan “E” yang dianggap bangsa Mesir sebagai huruf serapan dan akhiran “us”. Dan orang-orang Qibty zaman dahulu pun punya sebutan sendiri untuk nama negeri ini, yaitu Kemy yang berarti tanah hitam.

Di dalam Al-Qur’an sendiri nama Mesir disebut sebanyak lima kali, seperti yang disebut dalam Surat Yusuf ayat 99 yang artinya berbunyi: “Masuklah kalian semua ke negeri Mesir, In sya’allah dalam keadaan aman.”

Perjalanan Sejarah Mesir

Hieroglyphics
Sejarah Mesir kuno dimulai pada sekitar permulaan tahun 3400 SM, dengan dimulainya budaya bercocok tanam dan  berakhirnya sifat hidup nomaden hingga terbentuk masyarakat baru di Mesir. Masyarakat yang baru terbentuk ini kemudian berkembang hingga membentuk kerajaan-kerajaan kecil. Menjelang tahun 3000 SM, kerajaan-kerajaan kecil yang ada itu terkelompok menjadi menjadi dua bagian kerajaan besar: Mesir Hulu di bagian selatan dengan ibukota Thebes (sekarang Luxor) dan Mesir Hilir di bagian utara dengan ibukota Memphis. Kedua kerajaan ini kemudian dapat dipersatukan oleh Menes, raja Mesir Hilir, dengan Memphis sebagai ibukota baru. Pada masa raja Menes ini juga, huruf Hieroglyphics diciptakan.

Kerajaan dinasti pertama didirikan di kota ini. Tapi sejak berdirinya kerajaan baru pada 1570 SM, ibukota Mesir kuno berpindah dari Memphis ke Thebes. Meskipun demikian, kota Memphis tetap merupakan tempat tinggal para pembesar dan pejabat kerajaan.

Selama rentang waktu 2250 tahun Mesir kuno telah diperintah oleh 330 Fir`aun (Pharaoh) yang terbagi dalam 31 dinasti. Kekuasaan raja-raja dinasti Mesir berakhir pada tahun 332 SM dengan kedatangan Iskandar Agung (Alexander, the Great) dari Macedonia, putra Raja Philip dan murid Aristoteles. Pada saat itulah Mesir mulai memasuki babak baru dalam perjalanan sejarahnya dengan masuknya gelombang Hellenisme dari Yunani. Kota yang dibangun pertama kali oleh Iskandar Agung saat menginjakkan kakinya di atas bumi Mesir adalah Iskandariyyah (Alexandria) yang ia jadikan sebagai ibukota dan kota pelabuhan dagang. Kota Iskandariyyah dirancang dan digarap oleh seorang arsitek besar ahli tata kota bangsa Yunani, Demokrates.

Kota Iskandariyyah sempat menjadi ibukota negara Mesir selama rentang waktu kurang lebih 1000 tahun hingga penaklukan Islam pada tahun 21 H (621 M), setelah melalui tiga fase peradaban yaitu Ptolemy (Batholomeus), Romawi dan Byzantium. 

Setelah Iskandar, Mesir diperintah oleh wangsa Ptolemy dan tetap menjadikan Iskandariyyah sebagai ibukota resmi negara. Sebanyak 15 orang raja dari silsilah Ptolemy telah memerintah Mesir mulai dari tahun 304 SM - 30 SM. Pada masa inilah dibangun Universitas Iskandariyyah, universitas tertua di dunia, beserta perpustakaannya yang terkenal itu. Perpustakaan tersebut telah mengalami renovasi dan dibuka kembali untuk umum sejak tahun 1988.

Pada masa Romawi, agama kristen Koptik menjadi agama yang dipeluk oleh kebanyakan masyarakat Mesir. Meskipun pada kali pertama kekaisaran Romawi menginjakkan kakinya pertama kali di bumi Mesir, bangsa Mesir masih menganut animisme. Kekaisaran Romawi pada waktu melakukan pemerasan hasil bumi Mesir dan penindasan untuk kepentingan para penguasa di Romawi. Saat pertama kali agama Kristen masuk ke Mesir pada pertengahan abad pertama Masehi, tekanan kian meningkat hingga agama Kristen diakui menjadi agama resmi negara Romawi Byzantium pada tahun 394 M. Diantara perbedaan mendasar antara agama Kristen Romawi dengan agama Kristen Koptik ortodok adalah tidak diakuinya penyaliban Isa oleh Kristen Koptik.

Perbedaan pokok-pokok ajaran agama antara Kristen Romawi dan Kristen Koptik meyebabkan terjadinya kembali penindasan dan pelanggaran hak-hak asasi manusia, sampai akhirnya agama Islam masuk ke Mesir dari Semenanjung Arabia pada tahun 621 M dan membebaskan Mesir dari penindasan dan penjajahan Romawi. Islam masuk ke Mesir melalui penaklukan yang dilakukan oleh Amr ibn al-Ash, seorang sahabat terkemuka dan panglima besar Muslim.

Kemudian atas perintah khalifah Umar ibn al-Khatthab, Amr ibn al-Ash membangun sebuah masjid, yang sekarang terkenal dengan nama masjid Amr (Jami` `Amr) di kota Fusthat serta memindahkan ibukota negara ke kota itu. Dengan demikian dimulailah periode Islam dalam sejarah Mesir. 

Masuknya Islam ke Mesir telah membawa banyak perubahan besar dalam kehidupan sosial-budaya bangsa Mesir. Kerukunan antaragama betul-betul tercipta di mana hidup di dalamnya umat Islam, penganut Kristen Koptik dan pengikut agama Yahudi. Mesir adalah saksi sejarah kebesaran peradaban Islam dan hingga kini masih menjadi pusat peradaban dunia Islam, dengan mesjid dan universitas al-Azhar yang dibangun sejak masa Dinasti Fathimiyyah berkuasa pada tahun 359 H (970 M) sebagai bukti dan benteng tradisi Islam yang seakan tak lapuk dimakan usia.

Mesir Modern 

Pada tahun 1517 M, Mesir dikuasai oleh Turki Ottoman (Utsmani) pada masa pemerintahan Sultan Salim I. Dan pada tahun 1769, Mesir berhasil melepaskan diri dari kekuasaan Turki Ottoman untuk beberapa periode. Akan tetapi Turki Ottoman kembali menguasai wilayah Mesir setelah Perancis dipaksa meninggalkan Mesir pada bulan Oktober 1801.

Perancis masuk pertama kali ke Mesir melalui Iskandariyyah pada bulan Juni  tahun 1797 di bawah pimpinan Napoleon Bonaparte. Dan pada tahun 1798, Perancis resmi menduduki Mesir. Ekspedisi militer yang dipimpin oleh Napoleon ini, ternyata juga berhasil menyingkap warisan peradaban Mesir kuno dengan terungkapnya rumus tulisan hieroglyphics oleh Champollion, seorang budayawan Perancis yang mengikuti ekspedisi Napoleon itu.  Keberhasilan itu dicapai oleh Champollion setelah menyelidiki sebuah prasasti di kampung Rasyid -terkenal dengan nama Rosetta Stone. Batu bertulis itu memuat dekrit Ptolomeus V dari Yunani tahun 320 SM. Dalam penyelidikannya selama bertahun-tahun itu, terungkaplah nama Ptolemy dan Cleopatra. Berkat jasanya itulah huruf hierogliphics bisa dibaca dan sejarah Mesir kuno pun terungkap.

Perancis berhasil diusir keluar dari Mesir berkat persekutuan antara Turki Ottoman, Inggris dan Mamalik. Babak selanjutnya adalah perebutan kekuasaan yang terjadi antara Turki Ottoman dan Mamalik. Sengketa ini berakhir dengan jatuhnya Mesir ke tangan Turki di bawah pimpinan Muhammad Ali Pasya pada bulan Juli tahun 1805. Tonggak sejarah Mesir modern sesungguhnya dipancangkan oleh Muhammad Ali Pasya melalui proyek modernisasi yang ia jalankan dalam berbagai bidang seperti pendidikan, militer dan politik.

Pada bulan Maret 1807, Inggris melakukan agresi militer dengan menaklukkan kota pelabuhan Iskandariyyah untuk membantu Mamalik yang tersingkir dari Mesir. Tapi berkat kelihaian Muhammad Ali Pasya dalam berdiplomasi, akhirnya Inggris berhasil dipaksa angkat kaki dari Iskandariyyah pada bulan Agustus tahun 1807.

Muhammad Ali Pasya
Pada masa Muhammad Ali Pasya inilah kekuasaan Mesir melebar sampai ke Syria dan Sudan bahkan tentara Mesir ikut membantu tentara Turki Ottoman dalam pertempurannya di kepulauan Yunani, Asia Kecil dan Eropa Timur. Pada tahun 1840, atas tekanan Inggris, Muhammad Ali Pasya diasingkan oleh Sultan Turki Ottoman.

Setelah Muhammad Ali Pasya, Mesir diperintah oleh Abbas I (1848-1854) dan Said Pasya (1854-1863). Pada periode ini Mesir mengalami kemunduran hingga naiknya Khedive Ismail (1863-1879) yang memperbaiki kembali kehidupan sosial politik di Mesir. Di saat pemerintahan Khedive Ismail inilah, Terusan Suez dibuka untuk pertama kalinya pada tanggal 17 November 1869. Terusan Suez direncanakan oleh Ferdinand de Lesseps pada masa Said Pasya tahun 1857 dan mulai digali pada 25 April 1859.

Khedive Ismail pun akhirnya diturunkan oleh Sultan Turki Ottoman, karena Mesir mengalami kemerosotan ekonomi ditambah pula dengan intervensi asing yang berlebihan pada tahun 1879. Ia digantikan oleh Taufiq, putranya.

Pemerintahan Taufiq ini sangat dekat dengan Inggris. Pada masa inilah terjadi revolusi yang dipimpin oleh Ahmad Orabi. Menghadapi hal ini, Inggris tidak tinggal diam dan melakukan kembali agresi militer. Setelah melalui serangkaian pertempuran di kawasan Delta , Inggris berhasil menguasai Cairo pada tanggal 14 Desember 1882. Kemudian Inggris melepas Mesir dari Turki Ottoman pada Perang Dunia I, karena Mesir bertempur bersama Turki melawan sekutu di mana Inggris termasuk di dalamnya.

Setelah berakhirnya Perang Dunia I pada bulan November 1918, muncullah Saad Zaghloul memimpin Mesir. Ia berjuang menuntut kemerdekaan Mesir dari Inggris. Karena perjuangannya inilah, Inggris menangkap Saad Zaghloul dan mengasingkannya. Perbuatan Inggris ini membuat rakyat Mesir marah sehingga timbul revolusi besar menentang Inggris di Cairo yang kemudian menjalar ke seluruh penjuru Mesir pada tanggal 9 Maret 1919. Peristiwa ini kemudian dicatat dalam sejarah bangsa Mesir modern sebagai Revolusi 1919. Revolusi ini menyebabkan Inggris terpaksa merubah kebijakan politiknya di Mesir dan membebaskan Saad Zaghloul. Pahlawan ini akhirnya meninggal dunia pada tanggal 23 Agustus 1927.

Nampaknya kata revolusi seakan tidak pernah lepas dari kehidupan bangsa Mesir dalam menentang penjajahan Inggris. Di sela-sela perjalanan sejarah ini, Mesir sempat masuk menjadi anggota Liga Bangsa-Bangsa pada bulan Mei 1937 dan menjadi salah satu negara pemrakarsa berdirinya PBB.

Pasca kepemimpinan Saad Zaghloul, sistem pemerintahan Mesir oleh Inggris dirubah manjadi kerajaan. Imperialisme Inggris, rangkaian panjang perang Pelestina 1948 dan sistem kerajaan yang menindas yang mengakibat kemerosotan tragis di bidang politik, ekonomi dan sosial akhirnya mendorong sekelompok perwira Mesir yang menamakan dirinya Para Perwira Merdeka (Dlubbat al-Ahrar) untuk merubah dan memperbaiki situasi dan kondisi Mesir. Para perwira ini dipimpin oleh Gamal Abdel Nasser.

Pada saat itu, Mesir masih diperintah oleh Raja Farouk, yang naik tahta sejak tahun 1936. Pada tanggal 23 Juli 1952, pasukan Dlubbat al-Ahrar bergerak menguasai pusat-pusat pemerintahan dan sarana-sarana vital lainnya serta mengepung istana Abdeen (Abdeen Palace). Melalui siaran radio, gerakan Perwira Merdeka mengumumkan pengambilalihan kekuasaan di Mesir dan memaksa Raja Farouk menyerahkan jabatan kepada anaknya Fouad II. Peristiwa ini kemudian dikenang sebagai peristiwa Revolusi Juli 1952.

Karena Fouad II belum cukup dewasa, maka kekuasaan dipegang oleh junta militer yang dibentuk oleh Dlubbat al-Ahrar. Akan tetapi mereka melihat bahwa sistem kerajaan tidak sesuai dengan tuntutan rakyat dan bangsa Mesir. Akhirnya pada tanggal 18 Juni 1953 mereka mengumumkan berdirinya sistem negara Republik dengan Jendral Muhammad Naguib sebagai presiden terpilih pertama.

Kemudian dengan wafatnya Jendral Naguib, posisi presiden digantikan oleh Gamal Abdel Nasser pada tanggal 23 Juni 1954. Pada masa pemerintahan Gamal Abdel Nasser terjadilah beberapa peristiwa besar, diantaranya terusirnya penjajah Inggris dari bumi Mesir. Penarikan terakhir pasukan Inggris mundur dari Mesir dilakukan pada tanggal 18 Juni 1956. Peristiwa ini diperingati tiap tahunnya oleh bangsa Mesir sebagai Idul Galaa (Evacuation Day).

Suez Canal
Di samping itu juga Gamal Abdel Nasser dengan semangat nasionalismenya melakukan nasionalisasi Terusan Suez pada tanggal 26 Juli 1956. Sebelumnya saham Terusan Suez dimiliki oleh Inggris dan Perancis. Nasionalisasi Terusan Suez pada tahun 1956 ini, menyebabkan Mesir diserang oleh Israel yang dibantu Inggris dan Perancis. Namun persekutuan yang dikenal dalam sejarah sebagai Tripartite Agression ini berhasil dipatahkan oleh bangsa Mesir dengan menerapkan perang habis-habisan. Akhirnya Inggris dan Perancis mengundurkan diri dari kota-kota sepanjang Terusan Suez.

Perang 1967 Melawan Israel        

Peristiwa ini dimulai ketika tentara Israel bergerak ke perbatasan Syria. Hal ini membuat Mesir gusar dan mengirim tentaranya ke Sinai serta menurup Teluk `Aqabah hingga membawa kerugian besar bagi Israel. Pada tanggal 5 Juni 1967 Israel secara mendadak menggempur Mesir lewat darat, laut dan udara sampai berhasil menduduki tepi Timur Terusan Suez. Sedangkan di Syria, Israel berhasil menduduki Dataran Tinggi Golan, menguasai Palestina dan sebagian Jordan.

Peristiwa ini membuat marah bangsa Arab dan berdiri di belakang Mesir bahu membahu melawan Israel yang berada di kota-kota Terusan Suez. Dalam suasan genting seperti ini, Presiden Gamal Abdel Nasser meninggal dunia pada tahun 1970.

War 1973
Kemudian presiden baru Anwar Sadat yang menggantikan Gamal Abdel Nasser memimpin pasukannya dan berhasil menyeberangi Terusan Suez serta berhasil menghancurkan kekuatan Israel pada 10 Ramadhan tanggal 6 Oktober 1973. Rakyat Mesir mengenang peristiwa ini sebagai peristiwa `Ubour. Kemenangan Mesir atas Israel membuka mata Israel akan kekuatan Mesir sehingga mereka mau berdamai dan menyerahkan kembali daerah Sinai ke pangkuan Mesir.

Pada bulan November 1977, Presiden Anwar Sadat mengunjungi Israel  dan dianggap sebagai pengkhianatan oleh bangsa Arab lainnya. Atas prakarsa Jimmy Carter, Presiden Amerika Serikat kala itu, Anwar Sadat dan Menahem Begin menandatangani perjanjian damai di Camp David pada bulan september 1978. Akibatnya Mesir dikeluarkan dari keanggotaan Liga Arab dan markas besarnya pun dipindahkan dari Cairo ke Tunis.

Pada parade peringatan kemenangan 6 Oktober, dalam sebuah parade militer yang diadakan di Nasr City pada tahun 1981, Presiden Anwar Sadat tewas ditembak. Dengan tewasnya Anwar Sadat, maka yang menggantikan kedudukannya adalah wakil presiden, Muhammad Hosni Mubarak. Sejak saat itu diberlakukanlah Undang-Undang Darurat Militer sampai sekarang.

Akhirnya pada tanggal 25 April 1982 Israel keluar dari seluruh dataran Sinai, dan berikut daerah Thaba pada tahun 1989.

Data Singkat Negara Mesir

Nama Resmi Negara: Republik Arab Mesir (Jumhuriyah Misr al-Arabiyyah/ Arab Republic of Egypt).

Kepala Negara: Presiden Mohammad Husni Mubarak (sejak 1981)

Perdana Menteri: Dr. Athif Ubayd (terpilih sejak 1999)

Hari Nasional: 23 Juli (Hari Revolusi Juli 1952)

Lagu Kebangsaan: Bilady, Bilady, Bilady (Negriku, Negriku, Negriku)

Ibukota: Cairo (kepadatan penduduknya 16 juta jiwa) 

Sungai: Sungai Nil. Merupakan sungai terpanjang di dunia (4161 mil) dan menjadi sumber air utama negeri Mesir.

Mata Uang:
Pound Mesir/Geneh (£E).
Uang Pound yang beredar adalah:
1 Pound (£E 1)
5 Pound (£E 5)
10 Pound (£E 10)
20 Pound (£E 20)
50 Pound (£E 50)
100 Pound (£E 100)
200 Pound (£E 200)
Pecahan Pound adalah Piastres/Qirsy
Pecahan Pound yang beredar:
5 Piastres (shilling)
10 Piastres (bariza)
20 Piastres (riyal)
25 Piastres (rubu`)
50 Piatres (nush)
1 Pound = 100 Piastres              

Perbedaan Waktu Cairo dan Waktu Bagian Barat Indonesia:
Lebih lambat 5 jam pada bulan Oktober-April
Lebih lambat 4 jam pada bulan Mei-September
Jika di Indonesia jam 5 pagi, maka saat itu di Cairo masih jam 12 malam

Iklim:
Musim Panas/Shaif (Mei-Juli)
Musim Gugur/Kharif (Agustus-Oktober)
Musim Dingin/Syita’ (November-Januari)
Musim Semi/Rabi` (Februari-April)
Suhu terendah di Cairo pada Musim Dingin berkisar antara 4-12 derajat Celcius
Suhu tertinggi di Cairo pada Musim Panas mencapai 42 derajat Celcius

Maskapai Penerbangan:
Misr li al-Thayran (Egypt Air) untuk penerbangan Internasional
Sinai Air untuk penerbangan domestik dan regional

 Transportasi Dalam Kota:
Untuk transportasi dalam kota tersedia Bis Kota, Eltramco (bisa disamakan dengan Mikrolet/Angkot di Indonesia), Taksi, Trem dan Metro (kereta api bawah tanah. Jalur untuk Metro antar kota Cairo tersedia dari Helwan ke Marag sepanjang 42,5 km dan dari Giza ke Syubra al-Khaymah yang melintas di bawah dasar Sungai Nil).

Agama:
Islam (85%)
Kristen Coptic (6%)
Yahudi (0,1%)
Lain-lain (8,9%)

Makanan Pokok:
Gandum, roti (`isy), kacang (ful) dan beras.

Produk Pertanian:
Kapas, gandum, jagung, beras, ketela, gula, susu, kurma, domba, ayam, unta dsb.

Industri Utama:
Semen, pupuk, goni, alumunium, petrokimia, gula, besi dan baja, produk kapas, kimia, konstruksi.

Bendera:
Bendera negara Mesir terdiri dari tiga warna:

Hitam di bagian paling bawah, melambangkan bahwa Mesir sebelum revolusi 23 Juli 1952 hidup di bawah penindasan dan penjajahan.

Putih di bagian tengah, melambangkan perdamaia dan ketentraman

Merah di bagian paling atas, melambangkan gambaran perlunya pengorbanan, kesungguhan dan darah demi pembangunan, menjaga kehormatan serta kemerdekaan.
Di tengah-tengah warna putih terdapat gambar Elang yang melambangkan bahwa Mesir adalah negara Arab.

Partai Politik di Mesir:
Mesir menganut sistem multi partai. Partai politik yang diakui pemerintah ada 14 partai, 6 di antaranya adalah partai besar. Keenam partai besar tersebut adalah:

1. Hizbul Wathany al-Demoqrathi/National Democratic Party (NDP), adalah partai yang berkuasa sekarang. Didirikan pada tanggal 10 Ramadhan 1395 H (Agustus 1978) sebagai pengemban amanat Revolusi Juli 1952 dan Gerakan Reformasi 1971. Presiden Hosni Mubarak pernah memimpin partai ini pada generasi ketiga partai.

2. Hizbul `Amal/Labor Party, adalah partai oposisi yang didirikan pada tahun 1978. Sejak awal berdirinya hingga sekarang masih dipimpin oleh Ir. Ibrahim Syukri. Jumlah anggota resminya 1,25 juta. Berhaluan Islam dan berkoalisi dengan Gerakan Ikhwanul Muslimin. Terkenal aktif mengontrol kebijakan-kebijakan pemerintah.

3. Partai Nasser, adalah partai yang membawa paham-paham mendiang Gamal Abdel Nasser. Muncul setelah meninggalnya Nasser. Ketua partai saat ini adalah Dhiauddin Daud yang pernah menjabat Menteri Urusan Sosial pada masa Gamal Abdel Nasser. Anggota resmi partai mencapai 300.000 orang.

4. Partai NPUG (National Progressive Unionist Grouping), berdiri tahun 1976. Saat ini dipimpin oleh Khaled Mahyuddin. Anggota resminya sekitar 90.000 orang. Partai ini menjadi naungan orang-orang dari berbagai aliran pemikiran, seperti Marxis, Nasionalis, Aliran Keagamaan, Nasseris dsb.

5. Partai Liberal/Hizbul Ahrar, adalah partai oposisi pertama di Mesir dan surat kabar hariannya, al-Ahrar, yang terbit pertama kali bulan November 1977 adalah surat kabar oposisi pertama setelah Revolusi 23 Juli 1952. Dipimpin oleh politikus kenamaan, Musthafa Kamil Murad.

6. Hizbul Wafd, didirikan oleh pahlawan Mesir, Saad Zaghloul, pada tahun 1918. Puncak prestasinya adalah ketika membawa Saad Zaghloul naik menjadi Perdana Menteri Mesir tahun 1923. Menerbitkan surat kabar harian al-Wafd. Sekarang dipimpin oleh Dr. Fouad Sirajuddin.

Kawasan Wisata:

A. Di Cairo

1. Pyramid dan Sphinx. Sebetulnya Pyramid yang ada di Mesir berjumlah tidak kurang dari 97 pyramid. Pyramid-pyramid tersebut berada di padang pasir Sakkara 25 km dari Cairo yang merupakan pyramid-pyramid tertua di Mesir dan dibangun oleh Raja Zoser. Dan lainnya bisa dijumpai di kawasan Wastha 90 km selatan Cairo.  Tapi yang paling terkenal adalah tiga buah pyramid yang terletak di Giza. Masing-masing adalah:

a. Pyramid Cheops (Khufu), sesuai dengan namanya, pyramid ini didirikan atas perintah Raja Cheops pada tahun 2690 SM. Pembangunannya memakan waktu 20 tahun. Tinggi pyramid ini semula adalah 146 m, namun karena pengaruh alam mengakibatkan bagian puncaknya terkikis hingga tingginya tinggal 136m. Pyramid Cheops dibangun pada areal seluas 52.936 meter persegi atau 13 acre. Pyramid ini menghabiskan 2,5 juta potong batu besar, dengan berat rata-rata 2,5 ton bahkan ada yang mencapai 150 ton.

b. Pyramid Chepren (Khafra’). Dibangun oleh Raja Chepren, putra Cheops, pada tahun 2650 SM. Panjang setiap sisinya 214 m dengan ketinggian yang menyamai Pyramid Cheops.

c. Pyramid Mycerinos (Munqara’). Didirikan pada tahun 2600 SM, tingginya 62 m dan panjang setiap sisinya 104 m.

Pyramid and Sphinx
Adapun Sphinx adalah patung singa berkepala manusia dengan panjang 57 m dan tinggi 20 m. Dibangun oleh Raja Chepren pada tahun yang sama dengan Pyramid Chepren. Sphinx terletak 200 marah timur Pyramid dan jika dilihat dari depan ia nampak seolah sebagai penjaga Pyramid. Sphinx adalah simbol kekuatan dan kebijaksanaan para Pharaoh. Sebagaimana Pyramid menurut Aristoteles adalah lambang kekuatan raja-raja Fir`aun.

2. Qaryah Fir`aun (Kampung Fir`aun). Terletak di kawasan Giza. Ia mengisahkan kepada kita siklus aktifitas kehidupan masa Fir`aun.

3. Benteng Shalahuddin (Citadel/Qal`ah). Dibangun oleh Shalahuddin al-Ayyubi pada tahun 1183 M untuk membentengi kota Cairo sewaktu perang Salib. Di utara benteng tepat di puncak benteng terdapat masjid al-Marmari yang dibangun oleh Muhammad Ali Pasya. Mesjid ala Turki Ottoman ini dibangun menggunakan marmer dan granit dengan kubahnya setinggi 52 m dan dua buah menara menjulang setinggi 84 m. Dari tempat ini kita bisa menyaksikan pemandangan seluruh kota Cairo.

4. Masjid-Masjid Bersejarah:

a.  Masjid `Amr ibn al-`Ash, adalah masjid pertama di Afrika yang dibangun oleh `Amr ibn al-Ash atas perintah Khalifah Umar ibn al-Khatthab, setibanya di Mesir pada tahun 21 H/641 M. Berada di kota Fushthat.  

b. Masjid al-Azhar. Dibangun pada tahun 359 H/970 M oleh Jawhar al-Shiqilli atas perintah Khalifah Mu`iz li Dinillah, khalifah Daulah Fathimiyyah yang berpusat di Tunis. Masjid inii dibangun dalam waktu 26 bulan dan diikuti dengan pembangunan kota al-Qahirah (Cairo).

The Citadel and the Muhammad Ali Pasha
c. Masjid Muhammad `Ali didirikan oleh Muhammad `Ali Pasya, Bapak Mesir Modern di penghujung abad ke 19. Dibangun dari marmer dan granit. Bentuknya mirip masjid-masjid yang ada di Turki, Albania dan Yugoslavia. Di dalamnya terdapat kuburan Muhammad Ali. Terletak di dalam benteng Shalahuddin.

d. Masjid Sayyidina Husayn. Dinamakan demikian karena di dalamnya terdapat makam (kepala) Husayn r.a., cucu Nabi Muhammad Saw, yang wafat di Karbala. Semula dimakamkan di Asqalan (Palestina) dan oleh Dinasti Fathimy dipindahkan ke Cairo. Terletak berseberangan dengan Masjid al-Azhar.

e. Masjid Ahmad ibn Thoulun. Didirikan oleh Dinasti Thoulun pada tahun 879 M. Bercorak seperti masjid-masjid Mesir umumnya diperindah dengan menara dengan tangga melingkar ala Sumeria, Iraq. Merupakan masjid ketiga terbesar di Mesir. Terletak di kawasan Sayyidah Zaenab, Cairo.

f. Masjid Imam al-Syafi`i. Terletak di Hayy al-Syafi`i, Cairo. Berdampingan dengan makam Imam al-Syafi`i. Imam Madzhab besar ini wafat tahun 820 M di Mesir.

g. Masjid Sulthan Hasan dan Masjid Rifa`i. Terletak di samping benteng Shalahuddin. Masjid Sultjan Hasan dibangun oleh Sulthan Hasan dari Dinasti Mamalik pada tahun 1348-1351 M. Persis di sisinya berdiri Masjid Rifa`i. Di dalamnya terdapat makam Syeikh Rifa`i, seorang ulama dan juru dakwah.  Disamping itu terdapat pula di dalam masjid ini makam Raja Farouk yang digulingkan oleh revolusi 1952 dan makam Syah Reza Pahlevi, raja Iran yang digulingkan dan terusir dari Iran pada tahun 1979.

5. Museum Tahrir. Terletak di kawasan Tahrir Square, jantung kota Cairo. Di dalamnya tersimpan berbagai peninggalan sejarah Mesir kuno. Peninggalan terpenting yang dimiliki oleh museum ini adalah duplikat mummi Fir`aun yang masih utuh dan patung kepala Tut Ankh Amun yang terbuat dari emas murni seberat 42 kg.

B. Di Iskandariyyah    

1. Masjid dan Benteng Qeit Bey. Dibangun oleh Sulthan Qeit Bey, seorang sulthan dari dinasti Mamalik yang berkuasa tahun 1472 M. Benteng Qeit Bey sendiri digunakan untuk membentengi kota Iskandariyyah dari serangan luar. Luas benteng secara keseluruhan 2 hektar. Terletak di kota Iskandariyyah (Alexandria).

2. Masjid Abul Abbas al-Mursi. Berada di daerah tepi pantai kota Iskandariyyah. Berbentuk segi enam. Di dalamnya terdapat makam Syeikh al-Mursi seorang sufi murid Hasan Syadzili.

3. Romanian Theatre (al-Masrah al-Rumany). Terletak di kawasan Koum al-Dukkah. Merupakan peninggalan Romawi ketika menguasai Alexandria. Tempat duduknya membentuk setengah lingkaran dengan 12 anak tangga.

4. Mercusuar kuno Iskandariyyah, dibangun pada tahun 280 M terdiri dari 4 tingkat dengan ketinggian 135 meter. Terletak di bagian timur Iskandariyyah. Pernah menjadi salah satu keajaiban dunia sebelum gempa besar yang menghancurkannya. Di tempat reruntuhan mercusuar itu berdirilah kini Benteng Qeit Bey.

5. Pantai dan Taman Montazah. Di dalam taman pinggir laut seluas 155,4 hektar ini terdapat Istana Raja Farouk yang terletak di dataran tinggi menghadap ke Laut Tengah. Sekarang istana itu menjadi istana kepresidenan untuk menyambut tamu negara yang berkunjung ke Alexandria.

6. Museum Yunani-Romawi. Dibangun tahun 1891 untuk menyimpan dan memelihara benda-benda peninggalan zaman Yunani dan Romawi yang pernah menguasai Alexandria.

Selain kawasan wisata di atas, di sepanjang  pantai barat  Iskandariyyah juga banyak terdapat daerah tujuan wisata. Seperti: Pantai Syuruq 21 km utara Alexandria, Pantai Maraqiya 50 km sebelah barat Alexandria, Syathi` Gharm, saksi bisu kisah kasih Cleopatra dan Mark Antonio, di Marsa Matruh.

C. Di Faiyoum

Kota Faiyoum terletak 105 km selatan Cairo. Peradaban Mesir kuno lahir dari sini. Kota Memphis (Menef), ibukota Mesir pertama di masa Fir`aun berada di sebelah utara kota ini. Kawasan wisata yang berada di daerah ini adalah:

1. Danau Qarun (Buhairah Qarun). Luasnya 18.900 hektar. Danau ini merupakan bagian yang tersisa dari danau Moris kuno yang pernah dikunjungi Bapak Sejarah dari Yunani, Herodotus tahun 450 SM. Di tengah danau ini terdapat pulau kecil bernama Qarn al-Dzahabi. Menurut legenda, danau ini pada mulanya adalah tempat istana Qarun dan seluruh hartanya yang kemudian ditenggelamkan oleh Allah Swt, sehingga dinamakan Danau Qarun.

2. Al-Sawaqi (Kincir Air). Peninggalan peradaban Mesir kuno. Dulu sebanyak 200 kincir digunakan untuk mengairi lahan pertanian di Mesir kuno. Salah satu yang tersisa bisa disaksikan di tengah kota Faiyoum.

Di kota Faiyoum terdapat juga beberapa pyramid kecil, sepertiPyramid Hawarah dan Pyramid Lahun.

D. Di Sinai.

Sinai adalah sebuah dataran yang diapit oleh dua teluk: Suez dan Aqabah. Daerahnya berupa padang pasir dan gunung-gunung batu. Di dataran ini berbagai peristiwa kenabian pernah berlangsung. Sejak Nabi Ibrahin yang melakukan perjalann ke Syam, Nabi Musa yang berbicara dengan Tuhan dan makam Nabi Saleh as serta makam Nabi Harun as. Kawasan wisata di daerah ini sebagai berikut:

1. Mata Air Musa (`Uyun Musa). Terletak 143 km dari kota Cairo. Merupakan 12 mata air yang dipecahkan oleh Nabi Musa as. dari sebuah batu untuk minum 12 suku (asbath) Bani Israel sebagaimana dikisahkan oleh Al-Qur`an. Tapi saat ini ke 12 mata air itu tidak semuanya bisa ditemukan karena tertutup pasir sebagai akibat dari pengaruh angin gurun.

2. Ra’su Sadr. Terletak 174 km dari perbatasan Cairo di pinggir Teluk Suez. Berupa pantai yang menjadi tujuan wisata musim panas.

3. Kota Thur. Juga terletak di pinggir Teluk Suez dan merupakan ibukota Sinai Selatan. Di kota ini terdapat benteng Thur yang dibangun oleh Sultan Salim I, sultan Turki Ottoman, pada tahun 1520 M.

4. Syarm al-Syaikh. Terletak 472 km dari Cairo. Merupakan daerah pantai dan taman laut. Kota ini pernah menjadi tempat konferensi perdamaian internasional, khususnya dalam konflik Arab-Israel, pada tahun 1996 dan 2000.

5. Ra’su Muhammad. Terletak di ujung segitiga dataran Sinai, 53 km dari Syarm al-Syaikh. Merupakan daerah wisata pantai dengan beragam ikan hias.

6. Dahab. Berjarak 81 km dari Syarm al-Syaikh. Dinamakan Dahab, yang berarti emas, karena kawasan pantai ini memiliki pasir berwarna keemasan dan bermacam jenis ikan hias berwarna emas.

7. Jabal Thur dan Saint Catherine. Berjarak 412 km dari kota Cairo. Merupakan tempat tersuci di dataran Sinai. Di Jabal (gunung) Thur inilah Nabi Musa as berbicara dengan Tuhan ketika menerima wahyu (Ten Commandents). Terletak pada ketinggian 2500 m dari permukaan laut, sehingga udaranya sangat dingin bahkan kadang turun salju ketika musim dingin mencapai puncak. Di sini terdapat juga makam Nabi Saleh dan Nabi Harun serta patung `ijl(anak lembu) yang dibuat oleh Samiri ketika Nabi Musa berkontempalsi selama 40 hari untuk menerima wahyu di puncak Saint Catherine. Diberi nama saint Catherine karena di lembah ini terdapat sebuah biara bernama Saint Catherine yang dibangun pada abad ke 6 M. Nama ini diambil dari nama seorang anak pemimpin Alexandria ketika itu yang disiksa karena memeluk agama Kristen. Di lembah ini juga terdapat pohon suci yang disebut Al-Qur’an dengan  Syajarah Mubarakah (QS. al-Mu’minun: 20). 

8. Thaba. Kota ini adalah batas tiga negara antara Mesir, Israel dan Yordania. Berada di Teluk Aqabah, berhadapan langsung dengan pelabuhan Aqabah dan manjadi batas akhir wilayah Mesir dengan kota Ilat di wilayah Israel. Berjarak 703 km dari Cairo

9.  Jazirah Fir`aun. Sebuah pulau kecil, 8 km dari Thaba. Di sana ada sebuah benteng yang dibangun oleh Shalahuddin al-Ayyubi untuk menangkis serangan perang Salib. Pulau ini bisa dikunjungi dengan menggunakan perahu kecil yang disediakan oleh Kementrian Wisata Mesir.

10. `Ariesy. Ibukota propinsi Sinai Utara. Terletak di pinggir pantai Laut Tengah. Terkenal dengan keindahan pantai kormanya. Jaraknya 373 km dari Cairo.

11. Rafah. Perbatasan sebelah utara antara Mesir dengan Israel. Dahulu merupakan sebuah perkampung-an kecil bernama Shalahuddin, lalu kini dipecah menjadi dua dibatasi oleh pagar besi ke dua negara tersebut.

12. Hamam Fir`aun dan Hamam Musa. Terletak di kawasan Sinai Selatan, 224 km dari Cairo. Dulunya adalah tempat pemandian air panas (belerang) yang keluar dari salah satu gunung di pinggir Terusan Suez. Dinamakan Hamam Fir`aun karena menurut cerita tempat ini pernah dikunjungi Fir`aun dan kini masih bisa ditemui sisa guanya yang hampir tertutup.     

13. Ghardaqah (Hurghada). Kawasan wisata ini berjarak 540 km dari Cairo.  Dijuluki sebagai surga Laut Merah karena keindahan koleksi lautnya. Di sini terdapat juga pantai terapi alami. 

E. Di Luxor.

Kota Luxor (al-Aqshar), yang berarti istana-istana, dahulu merupakan bagian dari kota Thebes kuno. Semula kota ini dikenal dengan nama Wizy Wany, kemudian oleh orang Yunani disebut dengan Thebes. Homerus menyebut kota ini dengan nama kota “seratus pintu” karena banyaknya pilar-pilar di seluruh penjuru kota. Kota ini kaya dengan peninggalan peradaban Mesir kuno. Daerah tujuan wisata di kota ini adalah sebagai berikut:

1. Ma`bad al-Aqshar. Istana megah ini dibangun oleh raja Amenhotep III pada sekitar tahun 1400 SM. Namun tak sempat selesai karena ia keburu meninggal. Pekerjaan besar itu terbengkalai selama 100 tahun hingga Ramses II menyempurnakannya. Terletak di pusat kota Luxor dan pintu gerbangnya dijaga oleh dua patung Ramses berukuran raksasa dalam posisi duduk. 

2. Ma`bad Karnak. Dibangun sekitar tahun 2000 SM dan merupakan singgasana raja Amon. Ma`bad (kuil) ini termasuk tempat peribadatan yang besar. Luasnya mencapai 31 hektar. Di dalamnya terdapat berbagai macam patung dan peninggalan bersejarah lainnya,

3. Thariq Kibasy. Adalah jalan setapak yang menghubungkan antara Ma`bad al-Aqshar dan Ma`bad Karnak sepanjang kurang lebih 3 km. Sepanjang kedua tepi jalan itu terdapat patung-patung singa berkepala domba (kibasy) sebagai simbol raja Amon.

4. Buhairah Muqaddasah (Sacred Lake). Tempat suci ini terletak di luar pintu utama Ma`bad Karnak yang dulunya digunakan sebagai tempat penyucian diri dan pesta kebesaran raja-raja.

5. Maqabir Wadil Muluk (Valley of The Kings). Tempat ini merupakan kuburan keluarga kerajaan Mesir kuno, diantaranya kuburan Tut Ankh Amun, Ramses VI dan Amenhotep II serta Nefertiti, istri Ramses II.

F. Di Aswan.

Kota yang dibelah oleh aliran Sungai Nil ini berjarak 904 km dari Cairo. Dengan pemandangan alamnya yang indah dan alami, Aswan menjadi tujuan wisata musim dingin. Daerah wisata di sini adalah:

1. Bendungan Aswan. Adalah salah satu bendungan terbesar di dunia dengan panjang 360 m, tinggi 111 m dan lebar 40 m. Merupakan simbol kehebatan arsitektur abad ke 20 dan kebanggaan bangsa Mesir.

2. Danau Nasser. Danau ini memanjang lebih kurang 500 km dengan lebar rata-rata 10 km yang terbentuk dari saluran bendungan Aswan. Penelitian modern mengindikasikan bahwa danau ini mengandung biji emas yang dibawa oleh hujan dari gunung.

3. Ma`bad Bait el-Waly. Merupakan tempat peribadatan yang dipahat pada bukit batu dan salah satu dari lima ma`bad (kuil) yang dibangun oleh Ramses II di kawasan Nubah. Di dinding ma`bad ini terpampang relief panorama perang yang pernah diikuti Ramses II.

4. Maqabir al-Nubala’. Berupa kuburan yang dipahat dari gunung batu, menghadap ke arah kota Aswan pekuburan ini kembali ke abad ke 23 SM.

5. Abu Simbel. Masih berada dalam kawasan Aswan. Berjarak 280 km selatan Aswan atau 1184 km dari Cairo. Di sini bisa disaksikan Ma`bad Abu Simbel yang dibangun oleh Ramses II. Tinggi Ma`bad (kuil) ini 33 m, lebar 38 m dan dijaga oleh empat patung raksasa Ramses II yang tingginya 20 m. Memiliki seni arsitektur yang sangat menakjubkan sebagai bukti kebesaran dan ketinggian peradaban Mesir kuno. Di dalamnya terdapat suatu ruangan yang dikenal dengan nama Qadasul Aqdas (Tempat Tersuci) berisikan patung-patung Ramses,  Ra’hur Akhti dan Amon. Yang menakjubkan dari ruangan ini adalah bahwa sinar matahari tidak pernah memasuki ruangan ini sepanjang tahun kecuali setiap tanggal 21Februari (hari kelahiran Ramses) dan 22 Oktober (hari dinobatkannya Ramses menjadi Raja Mesir). Hal ini masih berlangsung sepanjang tahun yang merupakan bukti keahlian para arsitek Mesir kuno dalam memadukan ilmu arsitektur dengan ketepatan perhitungan perjalanan matahari.

6. Ma`bad Nefertari. Terletak di sebelah utara Ma`bad Abu Simbel. Dibangun atas perintah Ramses sebagai hadiah bagi Dewa Hat-Hour (Dewa Cinta dan Keindahan) sekaligus hadiah bagi Nefertari, permaisurinya.

Popular Post

Total Pageviews

- Copyright © IKPMA Mesir -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -